Hmm.. mulai dari mana ya? Ah, karena kategorinya rant, bisa dari mana saja….
Maka, mulai dari cerita. Ini percakapan saya dengan seorang teman lama:
Me: Oi… Selamat wisudanya ya…
Friend: Oi… Makasih makasih… Kamu kapan?
Cerita selesai… cuma 2 kalimat. Trus dalam hati saya ngebatin, “Oh, ini ya yang bikin awa ngga pernah datang ke wisudaan sebelum2nya?”
Dan inilah yang saya tidak suka dari acara wisudaan. Ada para wisudawan, ada para orang2 yang belum diwisuda. Tentunya, kita bisa mendeduksi fakta bahwa para wisudawan mengalahkan teman2nya yang belum beruntung untuk diwisuda. Well, mungkin ngga semua orang berpikir kaya gini. Tapi saya pasti akan berpikir begitu. Pasti. Ngga usah diberi trigger juga otomatis.
Ini yang saya tidak suka dari acara wisudaan. Dimana orang2 yang telat2 ini berada di bayang-bayang kesuksesan para wisudawan. Dimana percakapan antara sesama rekan yang dekat angkatannya akan berujung seperti cerita sangat pendek di atas. Dimana orang-orang melankolis yang sedang tidak fit mental, tidak dapat mengambil hal positif dari apa yang telah diraih teman-temannya yang diwisuda.
Oh, dan untuk kalian-kalian yang akan merespon tulisan ini dengan kalimat, “Ya udah, beresin cepet2 aja kuliahnya. Supaya bisa cepat wisuda juga.” dan atau semacamnya, I’ll say “SHUT THE F*** UP!”
I know that too. I understand that much.
Biarkan setidaknya saya dan beberapa orang yang mungkin berpikiran sama untuk ngerant seperti ini. Kami mungkin memang orang yang beda. Yang tidak menemukan motivasi disaat seharusnya ada, atau yang tidak bisa menghasilkan motivasi bagi diri sendiri untuk bergerak.
Ah…
bahkan untuk menumpahkan apa yang ada di pikiran ke dalam tulisan saja tidak mudah. Maka tulisan ini saya cukupkan di sini. Berharaplah tulisan berikutnya tentang wisudaan bisa bernada lebih ceria dari ini.
Selamat malam.