semalam beberapa jam, sejuta pelajaran sekian ribu kenangan
kemarin malam, tepatnya tanggal 7 Agustus 2009, pukul 07.00 p.m. (walaupun sebenernya ngga tepat waktu banget sih, baru mulai sekitar jam 8.00 p.m.) diadakan Makrab Ilustraza (Ikatan Alumni Taruna Dra Zulaeha) di Jakarta. Oiya, in case ada yang belum tahu, Sekolah Taruna Dra Zulaeha itu almamaterku. Aku di sana 14 tahun dari TK sampai SMA, udah kaya peliaraan dalam kandang.
Tulisan ini adalah cerita sedikit dari apa yang aku alami di sana, berbagai pengalaman, pelajaran, dan juga kenangan. Karena lagi malas cerita kronologis, jadi saya cerita overview aja.
Pada saat tiba, ternyata rombongan Bandung (aku dan 5 orang lainnya) malah jadi orang2 pertama yang hadir. Yang lain terjebak macet sepertinya. Jakarta oh Jakarta…
Sambil menunggu setelah mengisi presensi kehadiran, kami ngobrol2. Dan datanglah orang-orang berikutnya. Sebenarnya saya sudah expect bahwa ada angkatan2 senior yang akan datang. Tapi saya tidak expect bahwa sebenarnya acara malam itu ditujukan untuk reuniannya mereka-mereka yang sudah sangat senior (angkatan 81-90an).
Alhasil, ramailah ruangan dengan para mas-mas mbak-mbak alumni TDZ yang harusnya sudah tidak keberatan dipanggil bapak-bapak dan ibu-ibu. Kami yang muda-muda, beberapa berbaur sebentar dengan beliau-beliau. Tetapi kami pengertian dan kembali pada kumpulan yang muda-muda, kerena beliau-beliau tentunya lebih asyik ngobrol dengan rekan-rekannya yang sudah begitu lama meninggalkan almamater.
Saya juga sempat berbaur dan ngobrol dengan beberapa alumni angkatan 85. Ada mas Yonio yang sekarang sudah buat perusahaan sendiri setelah 19 tahun bekerja jadi karyawan. Juga Mas Yoyok yang sekarang kerja di Papua dan kebetulan bareng kami pulang ke Bandung dari Jakarta malam itu. Dari sana saya mendengarkan banyak cerita dan banyak pelajaran.
Banyak kenangan lama terbuka juga. Pada saat mendengarkan cerita tentang Taruna pada saat awal-awal berdirinya, lulusan-lulusan pertamanya, cerita-cerita para guru waktu di kelas, juga cerita dari bapak, semuanya berbaur menjadi satu dan tersambungkan. Seperti potongan-potongan puzzle itu bersatu.
Setelah itu, ada beberapa wejangan yang saya sangat ingat dari carita-cerita para alumni, terutama mas Yoyok sih, yang memang bareng2 kami kembali ke Bandung, diantaranya:
- Carilah teman sebanyak mungkin. Tidak peduli mereka dari mana saja, karena kita tidak tahu yang mana yang akan membantu kita dan yang butuh bantuan kita.
-Investasi yang paling murah itu silaturahmi.
- Kalau ada apa-apa, alumni almamater itu bisa membantu dan akan sangat senang hati membantu kita. Jadi jangan ragu mengenal dan meminta bantuan mereka.
-Cari pasangan sebelum bekerja. Supaya mereka mengerti bagaimana perjuangan kita merintis karir dan penghasilan kita tersebut. (Waktu dengar yang ini, agak berulang kali, agak gimana gitu.. hahaha…)
Nah, gitu kira-kira pengalaman-nya. Sebenarnya ada lebih banyak hal terjadi, tetapi tidak bisa kutulis semuanya di sini. Buat rekan-rekan dan para alumni yang datang tadi malam, saya ucapkan banyak terima kasih. Buat yang lain yang tidak bisa datang atau berada di wilayah lain mungkin bisa menginisasi kumpul-kumpul di wilayahnya dengan para alumni-alumni tua.
aji berkata,
Agustus 9, 2009 pada 2:03 pm
tapi gw beruntung boy… ada yang bisa ngebantuin gw ngelamar anaknya pak arief… hahahahahaahahha…. mas yoyok… puasa kita kerumahnya
mb rin berkata,
Agustus 14, 2009 pada 8:13 pm
dek, ada mas arif sama mb ane nya pak sabur ndak?
huhu..jadi kangen..